Kitab Fadhilah Amal


Untuk membawanya kembali ke Makkah. Sesuai dengan perjanjian, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengembalikan Sayyidina Abu Bashir Radhiyallahu ‘anhu. Sayyidina Abu Bashir Radhiyallahu ‘anhu pun memohon kepada Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, aku datang setelah masuk islam, namun engkau mengembalikan aku ke dalam cengkraman orang-orang kafir.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menasehatinya agar bersabar. Lalu, beliau bersabda. “Insya Allah, sebentar lagi Allah akan memberikan jalan keluar untukmu.” Akhirnya, Sayyidina Abu Bashir Radiyallahu ‘anhu dikembalikan ke Makkah bersama kedua utusan tadi.

Di tengah perjalanan, Sayyidina Abu Bashir Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada salah seorang dari keduanya, “Hai kawan, pedangmu bagus sekali.” Merasa pedangnya dipuji, orang itu dengan bangga mengeluarkan pedangnnya, “Ya, saya telah menebas banyak orang dengan pedang ini.” Sambil berkata demikian, ia memberikan pedangnya kepada Sayyidina Abu Bashir Radhiyallahu ‘anhu. Begitu berada di tangannya, Sayyidina Abu Bashir Radhiyallahu ‘anhu langsung menebaskan pedang itu kepada pemiliknya. Ketika orang kafir melihat temannya tewas, ia berkata, “Sekarang giliran saya.”Ia pun melarikan diri ke Madinah. Setibanya di hadapan Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata, ”Temanku telah dibunuh dan kini giliranku.” Saat itu Sayyidina Abu Bashir Radhiyallahu ‘anhu pun tiba di hadapan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata. “Ya Rasulullah, engkau telah memenuhi janjimu dengan mereka, dan aku pun telah dipulangkan. Namun, aku tidak memiliki janji apa pun yang menjadi tanggung jawabku terhadap mereka. Kulakukan semua ini karena mereka berusaha mencabut agama dari diriku.” Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ini penyulut api peperangan! Seandainya ada yang membantu.”

Dari sabda itu, Sayyidina Abu Bashir Radhiyallahu ‘anhu memahami bahwa jika ada Kaum Kafir yang memintanya kembali, maka ia akan dikembalikan lagi kepada mereka. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat di pantai. Berita ini diketahui oleh orang-orang islam yang ada di Makkah. Sayyidina Abu Jandal Radhiyallahu ‘anhu, yang telah diceritakan dalam kisah sebelumnya, secara sembunyi-sembunyi melarikan diri dan bergabung dengan Sayyidina Abu Bashir Radhiyallahu ‘anhu. Demikian pula orang-orang yang telah masuk islam, banyak yang bergabung dengan Sayyidina Abu Bahsir Radhiyallahu ‘anhu.

Dalam beberapa hari, mereka menjadi sebuah rombongan kecil. Mereka sampai di sebuah padang yang di dalamnya tidak ada makanan atau kebun sedikit pun, juga tidak ada penduduk. Hanya Allah Subhaanahu wata’ala yang mengetahui keberadaan mereka. Mereka mencegat perjalanan orang-orang zhalim yang kezhalimannya telah membuat mereka melarikan diri. Jika ada kafilah yang melewati tempat tersebut, mereka akan menghadang dan menyerangnya.

Kaum Kafir di Makkah pun merasa prihatin, sehingga mereka terpaksa mengutus seseorang untuk menjumpai Baginda Shallallahu ‘alaihi




Kitab Fadhilah Amal – Syaikhul Hadits : Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rah.a

Tim Penerjemah Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Jakarta
Penerbit Ash-Shaff